PPRBM Solo: Inklusi dan Inovasi Tiada Henti

Belajar Bersama Tanpa Batas: Membangun Ruang Aman dan Inklusif bagi Anak Disabilitas

Kolaborasi orangtua, pendamping, dan forum komunitas dalam memperkuat partisipasi, mengurangi stigma, dan menghadirkan pelayanan pendidikan yang inklusif.

PROGRAM BEASISWA PENDIDIKANBAZNASKELOMPOK BELAJAR

Suhartiningsih (CO Kabupaten Sragen)

2/23/20262 min read

Setiap anak berhak tumbuh dan belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan inklusif. Berangkat dari semangat tersebut, kegiatan Kelompok Belajar Program Beasiswa Pendidikan Kemitraan Baznas–PPRBM Solo hadir sebagai ruang bersama yang tidak hanya mendukung proses belajar, tetapi juga memperkuat penerimaan sosial bagi anak-anak dengan disabilitas, namun Kelompok Belajar ini juga membuka ruang dan tempat bagi setiap anak yang ingin belajar bersama karena Kelompok Belajar ini adalah ruang inklusif yang terbuka untuk semua anak. 

Praktik ini menjadi penting untuk dibagikan karena menjawab kebutuhan yang nyata di masyarakat. Kehadiran Kelompok Belajar berperan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif, serta menjadi ruang untuk mengurangi stigma serta diskriminasi, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan dasar bagi anak disabilitas. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya advokasi pelayanan inklusi serta membangun sistem deteksi dini terhadap kebutuhan belajar anak. Pada akhirnya, tujuan besarnya adalah meningkatkan partisipasi anak disabilitas dan non disabilitas bersama orangtua dalam proses pendidikan.

Di lapangan, tentu saja muncul berbagai macam tantangan. Masih terdapat orang tua atau keluarga yang belum sepenuhnya terdorong untuk mengikutsertakan anaknya dalam kegiatan Kelompok Belajar, sering kali karena kesibukan atau keterbatasan waktu. Selain itu, padatnya jadwal anak-anak yang telah mengikuti kegiatan sekolah formal maupun program belajar lainnya menuntut adanya penyesuaian agar semua aktivitas tetap berjalan seimbang.

Menghadapi kondisi tersebut, pendekatan kolaboratif menjadi kunci. Kesepakatan bersama dibangun agar seluruh penerima manfaat program beasiswa tetap dapat mengikuti kelompok belajar tanpa mengganggu waktu belajar atau kegiatan sekolah maupun di luar sekolah. Peran orangtua pun terus didorong, khususnya dalam memberikan dukungan moral serta memastikan kehadiran anak selama kegiatan berlangsung.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari pendamping, pengurus forum orangtua, hingga anak-anak penerima manfaat. Pelaksanaan program difokuskan di satu wilayah dampingan, sehingga anak-anak dapat mengikuti kegiatan tanpa terkendala jarak yang jauh. Pendekatan berbasis komunitas ini terbukti membantu menciptakan suasana belajar yang lebih dekat, akrab, dan suportif.

Respon masyarakat sekitar menjadi salah satu pembelajaran berharga. Kehadiran kelompok belajar disambut positif; tidak jarang warga turut hadir untuk melihat proses belajar anak-anak—mulai dari belajar mengaji, sholat, membaca, hingga menulis. Dukungan ini mencerminkan tumbuhnya kesadaran sosial bahwa anak disabilitas adalah bagian penting dari komunitas.

Bagi anak-anak dan orangtua, kegiatan ini menghadirkan pengalaman yang bermakna dan luar biasa, pertama karena belajar bersama secara gratis, kedua mendapatkan dukungan perlengkapan belajar serta pendampingan guru yang profesional, ketiga menciptakan rasa senang, aman, dan bersemangat, keempat anak-anak tidak hanya memperoleh keterampilan akademik dan keagamaan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi, membangun kepercayaan diri, dan merasa diterima.

Dari keseluruhan proses ini, satu hal menjadi jelas yaitu pendidikan inklusif tidak pernah berdiri sendiri, pendidikan inklusif tumbuh dari sinergi antara orangtua, guru, pengurus forum, dan pendamping. Ketika kolaborasi terbangun, ruang belajar bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan juga sebagai ruang pemulihan, pemberdayaan, dan harapan bagi masa depan anak-anak dengan disabilitas.

Annisa Fatikhasari
Editor