PPRBM Solo: Inklusi dan Inovasi Tiada Henti

Belajar dari Ibu Miftakhul Jannah: Memilih Pulih dan Berdamai dengan Diri Sendiri

CO PPRBM Solo Kab. Kebumen menggali cerita ini saat berkunjung dan mengobrol cukup dalam dengan Ibu Miftakhul Jannah. Sosoknya yang sederhana dan blak-blakan sepintas menyamarkan cerita-cerita tentang betapa kuat tekatnya untuk pulih. Di tengah badai persoalan hidup yang menjadi pemicunya, ia tetap tahu cara mencari jalan keluar. Tidak lupa beliau selalu mengingatkan untuk tetap kembali pada Tuhan sebagai Sang Maha.

DIGNITY INKLUSICERITA MOTIVASI

Nurul Hanivah (CO PPRBM Solo Kabupaten Kebumen)

2/2/20262 min read

Ket. Ibu Miftakhul Jannah berkerudung hitam

Bagi Ibu Miftakhul Jannah, pikiran seringkali terasa seperti ruangan penuh cermin yang retak. Ada hari-hari di mana pantulan dirinya tampak suram, dipenuhi suara-suara kecemasan yang tiada henti menggema dalam kepala. Dulu, ia sering merasa bahwa dirinya kerap tenggelam dalam emosi dan pikiran-pikiran yang tidak nyata. Hanya ia yang bisa melihat, mendengar dan merasakannya.

Namun, sebuah titik balik terjadi ketika ia hampir kehilangan semangat hidup. Beliau yang awalnya menganggap bahwa berobat adalah tanda kekalahan, hari itu memutuskan untuk bangkit. Beliau memilih berdamai dengan dirinya sendiri dan dengan keadaan. Beliau memeluk segala luka-luka emosi yang ada dalam dirinya. Beliau bertekat akan kembali seperti sediakala. Menjalani kehidupan sebagaimana mestinya.

Berbeda dengan kebanyakan kasus penyintas disabilitas psikososial, Ibu Miftakhul Jannah memutuskan untuk melangkah sendiri, memperjuangkan kesembuhan dirinya. Ia sadar betul bahwa ia butuh pertolongan untuk kondisinya, ia tahu dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Awal mulanya, Ibu Miftakhul Jannah mulai mencari tahu. Beliau datang ke Puskesmas terdekat untuk berkonsultasi dengan layanan kesehatan jiwa. Beliau mencatat semua gejala dan keluhannya agar ia tidak lupa menyampaikannya pada dokter. Beliau pernah dirujuk ke rumah sakit dan menjalani rehabilitasi secara medis. Saat diberikan obat, beliau tidak melakukan tawar-menawar. Ia mengonsumsinya secara rutin, mencatat efek sampingnya, dan menyampaikannya ke perawat. Bahkan beliau juga mempelajari nama, jenis, serta kegunaan dari setiap obat yang diresepkan dokter untuknya. Dari situ, beliau juga belajar mendengarkan dan memahami kondisi dirinya. Ia tahu dan bisa merasakan jika dirinya akan memasuki fase relaps dan membutuhkan obat dan istirahat.

Beliau juga tahu bahwa obat saja tidak cukup. Ia butuh rehabilitasi agar bisa berfungsi kembali di lingkungan sosial. Ia secara aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di SHG Grobensa sejak beberapa bulan lalu. Selain itu, beliau juga selalu berupaya menjalani kehidupannya dengan sebaik dan semampunya. Beliau memiliki aktivitas keseharian memelihara ternak unggas ayam, bebek dan entok di rumahnya. Meskipun tidak banyak, beliau mengungkapkan aktivitas semacam itu sangat membantu kehidupannya. Beliau juga aktif mengikuti banyak kegiatan spiritual seperti majelisan, pengajian, peringatan haul, dan sebagainya. Serta kegiatan-kegiatan sosial lain di lingkungannya seperti yasinan dan kumpulan RT.

Meski tidak pernah dilisankan, perjalanan Ibu Miftakhul Jannah mengajarkan bahwa agensi diri atau kemauan kuat dari dalam diri seorang ODDP adalah kunci utama pemulihan. Ketika seseorang berhenti melihat dirinya sebagai "masalah" dan mulai melihat dirinya sebagai "pemilik solusi", di situlah rehabilitasi yang sesungguhnya dimulai.

Annisa Fatikhasari
Editor