PPRBM Solo: Inklusi dan Inovasi Tiada Henti
Dari Kader COVID Menjadi Penggerak Kesehatan Jiwa: Kisah Mbak Eka Mendampingi Warga Desa Mertasari
DIGNITY INKLUSIKESEHATAN JIWAKISAH INSPIRATIF
Annisa Fatikhasari
8/18/20262 min read


Mbak Eka, kader kesehatan jiwa sekaligus caregiver di SHG Mertasari, Desa Mertasari, mulai terlibat dalam pendampingan kesehatan jiwa sejak tahun 2020, ketika ia menjadi kader COVID (tracer). Berawal dari ajakan petugas kesehatan jiwa Puskesmas untuk mendampingi proses evakuasi seorang warga dengan gangguan psikososial, pengalaman tersebut mendorongnya untuk terus membantu warga yang membutuhkan dukungan kesehatan jiwa. Dengan bekerja bersama keluarga, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa, Mbak Eka melakukan kunjungan rumah, memberikan pendampingan awal, membantu akses layanan kesehatan, serta mendukung proses pemulihan warga secara berkelanjutan.
Perjalanan Mbak Eka dalam mendampingi warga dimulai ketika ia menjadi kader COVID di Desa Mertasari. Pertemuannya dengan penanganan kesehatan jiwa di lapangan membuatnya menyadari bahwa warga dengan disabilitas psikososial membutuhkan lebih dari sekadar layanan kesehatan. Mereka juga membutuhkan kepedulian keluarga dan dukungan masyarakat.
Pengalaman tersebut semakin bermakna karena beberapa anggota keluarganya juga pernah mengalami gangguan jiwa. Hal ini menguatkan tekad Mbak Eka untuk terlibat dalam pelayanan kesehatan jiwa di desanya. Baginya, menjadi kader bukan sekadar pekerjaan sukarela, tetapi bagian dari upaya untuk memberikan manfaat bagi keluarga dan lingkungan.
Cerita Mbak Eka menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari kepedulian satu orang. Melalui pendampingan yang dilakukan secara konsisten, ia turut berkontribusi dalam membangun Desa Mertasari yang lebih inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas psikososial.
Saat ini, Mbak Eka menjadi salah satu orang yang dihubungi ketika ada laporan warga mengenai seseorang yang diduga mengalami gangguan psikososial. Bersama petugas kesehatan dan pemerintah desa, ia melakukan kunjungan rumah untuk melihat kondisi warga, memberikan pendampingan awal, dan membantu menentukan langkah penanganan yang diperlukan
Pendampingan juga dilakukan setelah warga mendapatkan rujukan. Mbak Eka membantu memastikan kepemilikan dokumen kependudukan dan kepesertaan BPJS, mendampingi pemeriksaan ke dokter spesialis jiwa, mengingatkan jadwal kontrol, serta memotivasi pasien agar rutin mengonsumsi obat. Ia juga menjadi penghubung antara keluarga, pemerintah desa, dan tenaga kesehatan.
Dalam menjalankan perannya, Mbak Eka menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah membangun pemahaman keluarga. Sebagian keluarga masih menghentikan pengobatan karena khawatir terhadap efek samping obat atau merasa pasrah terhadap kondisi anggota keluarganya.
Situasi tersebut membuat Mbak Eka terus membangun komunikasi dan memberikan pemahaman kepada keluarga agar tetap mendukung proses pemulihan. Berbagai pengalaman ini membuatnya semakin sabar, berhati-hati dalam bersikap, dan memahami bahwa setiap orang memiliki kondisi serta kebutuhan yang berbeda.
Menurut Mbak Eka, pemulihan tidak hanya membutuhkan obat, tetapi juga dukungan sosial, kesabaran, dan penerimaan dari lingkungan sekitar.
Melalui Program DIGNITY, Mbak Eka memperoleh pengetahuan mengenai kesehatan jiwa, disabilitas, dan pendampingan berbasis masyarakat. Pelatihan tersebut menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas pendampingan kepada warga.
Ia berharap kesempatan untuk mengikuti pelatihan serupa dapat terus berlanjut sehingga kader kesehatan jiwa memiliki kapasitas yang semakin baik dalam memberikan pelayanan di masyarakat.
Di balik berbagai perannya, Mbak Eka memiliki harapan sederhana: semakin banyak keluarga yang peduli kepada anggota keluarganya yang mengalami gangguan psikososial, semakin luas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya kesehatan jiwa, dan semakin besar perhatian terhadap para kader kesehatan jiwa.
