PPRBM Solo: Inklusi dan Inovasi Tiada Henti

Dari Penerima Manfaat Menjadi Penggerak: SHG Grogolbeningsari Belajar Menyusun Proposal

Penguatan kemandirian SHG Grogolbeningsari tidak hanya dilakukan melalui keterampilan dan kegiatan ekonomi, tetapi juga melalui peningkatan kapasitas kelembagaan. Pada tahun 2026, PPRBM Solo mendampingi SHG Grogolbeningsari dalam pelatihan penyusunan proposal program sebagai langkah untuk memperkuat kemampuan kelompok dalam menyampaikan gagasan, mengakses peluang, dan membangun kolaborasi.

DIGNITY INKLUSIPEMBERDAYAAN KOMUNITAS

Nurul Hanivah

8/10/20262 min read

Bagi SHG Grogolbeningsari, belajar menyusun proposal adalah satu langkah kecil menuju tujuan yang lebih besar—menjadi kelompok yang semakin mampu menentukan kebutuhan, menyuarakan gagasan, dan mengambil bagian dalam pembangunan di lingkungannya.

Pada tahun 2026, PPRBM Solo sebagai organisasi pendamping melaksanakan Pelatihan Pembuatan Proposal Program bersama SHG Grogolbeningsari di Desa Grogolbeningsari, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. Kegiatan ini dilakukan untuk memperkuat kapasitas kelompok dalam menyusun dan menyampaikan gagasan program secara mandiri, sehingga SHG dapat memanfaatkan berbagai peluang dukungan yang tersedia di lingkungan mereka. Pendampingan dilakukan melalui proses belajar bersama yang sederhana dan bertahap, mulai dari mengenali masalah, menentukan solusi, hingga menuangkannya ke dalam bentuk proposal program.

Perjalanan SHG Grogolbeningsari selama kurang lebih dua tahun menunjukkan perkembangan yang cukup berarti. Kelompok telah mampu memproduksi pakan ternak fermentasi secara mandiri, terlibat dalam layanan kesehatan dan sosial, serta mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Desa Grogolbeningsari.

Namun, di balik perkembangan tersebut masih terdapat tantangan. Berbagai kegiatan pemberdayaan masih cukup bergantung pada fasilitasi dari pihak luar, seperti kader dan pemerintah desa. Sementara itu, peluang untuk mendapatkan dukungan dari berbagai sumber, seperti Dana Desa, CSR, maupun lembaga lainnya, sebenarnya terbuka cukup luas.

Salah satu kendalanya adalah keterbatasan pengalaman anggota SHG dalam mengembangkan gagasan menjadi sebuah proposal. Anggota belum terbiasa melakukan analisis masalah secara terstruktur, sementara pengurus juga masih membutuhkan penguatan dalam menyusun proposal yang sistematis. Dokumentasi mengenai berbagai pengalaman dan perubahan yang telah dilakukan kelompok juga belum terdokumentasikan secara optimal.

Melihat kondisi tersebut, PPRBM Solo melalui peran Community Organizer (CO) melakukan pendampingan melalui Pelatihan Pembuatan Proposal Program. Dalam pelatihan ini, proposal diperkenalkan bukan sebagai dokumen yang rumit, tetapi sebagai alat untuk menyampaikan kebutuhan dan gagasan kelompok.

Anggota SHG diajak untuk menjawab pertanyaan sederhana: Apa masalah yang ada di sekitar mereka? Kegiatan apa yang dapat menjadi solusi? Dan manfaat apa yang dapat diberikan bagi anggota SHG maupun desa?

Pendekatan tersebut diharapkan membantu anggota SHG memahami bahwa mereka memiliki pengalaman, pengetahuan, dan gagasan yang dapat dikembangkan menjadi sebuah program. Proses ini juga menjadi ruang untuk membangun rasa percaya diri anggota dalam menyampaikan kebutuhan dan menentukan arah pengembangan kelompok.

Pelatihan ini bukan menjadi akhir dari proses pendampingan. Pertemuan lanjutan masih diperlukan untuk memperdalam kemampuan anggota SHG dalam menyusun proposal. CO PPRBM Solo akan terus mendampingi proses tersebut, termasuk dalam pengajuan proposal kepada calon mitra agar gagasan yang telah dirumuskan dapat memperoleh dukungan dan memberikan manfaat bagi SHG serta Desa Grogolbeningsari.

Dari proses ini, SHG Grogolbeningsari mulai melihat proposal bukan sekadar dokumen administratif, tetapi sebagai salah satu alat untuk menyuarakan kebutuhan, mengembangkan organisasi, dan membuka peluang kolaborasi.

Pemerintah Desa Grogolbeningsari juga memberikan ruang bagi proposal SHG untuk diajukan dalam forum perencanaan pembangunan desa. Ruang ini menjadi peluang penting bagi kelompok untuk membawa gagasan mereka ke dalam proses pembangunan di tingkat desa.

Pengalaman ini memberikan satu pembelajaran penting: pemberdayaan tidak cukup berhenti pada pemberian bantuan atau pelatihan keterampilan teknis. Kemandirian juga membutuhkan kemampuan kelompok untuk mengorganisir diri, menyampaikan kebutuhan, merancang solusi, dan membangun komunikasi dengan para pemangku kepentingan.

Annisa Fatikhasari
Editor

E-mail PPRBM Solo:
Akun media sosial kami:
Hubungi kami:

+62 881-0105-01604

cbr.centersolo@gmail.com

@pprbmsolooffice