PPRBM Solo: Inklusi dan Inovasi Tiada Henti
Kembali ke Masyarakat: Langkah Baru Wahyono Menuju Pemulihan yang Lebih Mandiri
Setelah menjalani rehabilitasi medis selama lebih dari satu tahun di RPS Pamardi Raharjo, Wahyono resmi kembali ke masyarakat melalui proses terminasi yang didukung oleh keluarga, Kader Keswa, Pemerintah Desa Mertasari, dan SHG setempat. Kolaborasi berbagai pihak ini menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan pemulihan, meningkatkan kepatuhan pengobatan, serta memperkuat dukungan sosial bagi Wahyono agar semakin stabil dan mandiri di tengah masyarakat.
CERITA DAMPAK PROGRAMDIGNITY INKLUSI
Hanafi Slamet Sugiarto
6/15/20262 min read


Semangat gotong royong yang ditunjukkan oleh keluarga, Kader Keswa, Pemerintah Desa Mertasari, dan SHG menjadi bukti bahwa pemulihan dapat berjalan lebih optimal ketika dilakukan bersama. Karena pada akhirnya, setiap individu berhak mendapatkan kesempatan untuk pulih, tumbuh, dan kembali menjadi bagian yang aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
Pada tanggal 28 April 2026 telah dilaksanakan proses terminasi bagi salah satu penerima manfaat RPS Pamardi Raharjo, yaitu Wahyono. Setelah menjalani rehabilitasi medis selama lebih dari satu tahun, Wahyono kini kembali ke lingkungan masyarakat dan melanjutkan proses pemulihannya bersama keluarga serta komunitas di Desa Mertasari.
Proses terminasi berlangsung dengan lancar dan dihadiri oleh keluarga, Kader Kesehatan Jiwa (Keswa), serta Pemerintah Desa Mertasari. Kehadiran berbagai pihak dalam momen ini menjadi bentuk dukungan nyata yang sangat penting bagi keberlanjutan pemulihan Wahyono setelah kembali ke rumah dan lingkungan sosialnya.
Dalam proses terminasi, petugas RPS Pamardi Raharjo memberikan penjelasan kepada keluarga dan pendamping mengenai pentingnya pengawasan minum obat secara rutin, kontrol kesehatan berkala, serta dukungan psikososial dari orang-orang terdekat. Hal ini menjadi perhatian utama mengingat keberhasilan pemulihan tidak hanya ditentukan oleh layanan rehabilitasi yang telah diterima, tetapi juga oleh dukungan yang berkelanjutan setelah penerima manfaat kembali ke masyarakat.
Tantangan yang dihadapi pasca terminasi tentu tidak sedikit. Kondisi Wahyono yang tinggal bersama neneknya, sementara ayahnya berdomisili di desa tetangga, membutuhkan koordinasi dan komunikasi yang lebih intens agar proses pemulihan dapat terus berjalan dengan baik. Dukungan keluarga sebagai Pendamping Minum Obat (PMO), pemantauan rutin, serta perhatian terhadap perkembangan kondisi Wahyono menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas kesehatannya.
Pemerintah Desa Mertasari dan Kader Keswa turut berkomitmen mendampingi keluarga dalam melakukan pemantauan dan memberikan dukungan yang diperlukan. Melalui koordinasi yang aktif, berbagai pihak dapat bersama-sama memastikan bahwa Wahyono tetap mendapatkan akses layanan kesehatan serta lingkungan yang mendukung proses pemulihannya.
Selain itu, keberadaan Self Help Group (SHG) Desa Mertasari menjadi salah satu kekuatan penting dalam mendukung pemulihan berbasis masyarakat. Sebagai anggota SHG, Wahyono diajak kembali terlibat dalam berbagai kegiatan kelompok. Melalui ruang belajar, berbagi pengalaman, dan dukungan dari sesama anggota, diharapkan kepercayaan diri, motivasi, dan kemampuan sosial Wahyono dapat terus berkembang.
Pemulihan adalah proses yang membutuhkan waktu dan dukungan dari berbagai pihak. Kisah Wahyono menunjukkan bahwa kolaborasi antara keluarga, pemerintah desa, kader kesehatan jiwa, dan kelompok sebaya memiliki peran yang sangat berarti dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung. Dengan dukungan yang berkelanjutan, Wahyono diharapkan semakin stabil, lebih mandiri, serta mampu menjalani kehidupan yang produktif dan bermakna di tengah masyarakat.
