PPRBM Solo: Inklusi dan Inovasi Tiada Henti
Membangun Layanan Aman dari Komunitas: Penerapan Safeguarding di Posyandu Ngudi Mulyo IX
Komitmen kader posyandu dalam menciptakan lingkungan layanan yang aman, ramah, dan responsif bagi anak serta kelompok rentan.
Wafiq Fairus Azizah (CO Kabupaten Karanganyar)
2/23/20261 min read


Posyandu Ngudi Mulyo IX tidak hanya berperan sebagai penyedia layanan kesehatan masyarakat, tetapi juga sebagai penggerak terciptanya lingkungan yang aman, nyaman, dan inklusif bagi anak dan kelompok rentan. Melalui penerapan prinsip safeguarding, posyandu ini menunjukkan bahwa perlindungan dapat dimulai dari tingkat komunitas.
Penerapan safeguarding di Posyandu Ngudi Mulyo IX dimulai setelah para kader mengikuti pelatihan safeguarding yang difasilitasi oleh Pusat Rehbailitasi YAKKUM Yogyakarta dan PPRBM Solo. Sebelumnya, pemahaman kader mengenai pencegahan dan penanganan kekerasan masih terbatas dan belum tersedia mekanisme pelaporan yang jelas. Kesadaran akan pentingnya layanan yang aman mendorong posyandu untuk berkomitmen mengintegrasikan safeguarding ke dalam praktik sehari-hari setiap pelayanan.
Dalam prosesnya, berbagai tantangan sempat dihadapi. Di antaranya adalah belum meratanya pemahaman kader pada tahap awal, ketiadaan alur pelaporan yang baku, hingga minimnya pengalaman kader dalam menangani aduan. Selain itu, diperlukan upaya membangun kesadaran bersama bahwa risiko kekerasan dapat terjadi di berbagai ruang layanan, termasuk di tingkat komunitas.
Menjawab tantangan tersebut, Posyandu Ngudi Mulyo IX melakukan sejumlah langkah strategis. Para kader memperkuat kapasitas melalui pelatihan safeguarding, dilanjutkan dengan sosialisasi internal untuk menyamakan pemahaman. Posyandu juga menyusun alur pelaporan yang jelas dan mudah digunakan, menunjuk focal point safeguarding sebagai rujukan, memasang media edukasi Do & Don’t Safeguarding, serta menyediakan kotak aduan guna mempermudah masyarakat menyampaikan laporan secara aman.
Upaya yang dilakukan secara bertahap ini menunjukkan hasil yang positif. Kader kini memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai safeguarding, mekanisme pelaporan menjadi lebih terstruktur, dan masyarakat memiliki saluran aduan yang lebih mudah diakses. Lingkungan layanan posyandu pun berkembang menjadi ruang yang lebih aman dan responsif.
Pengalaman Posyandu Ngudi Mulyo IX menjadi pembelajaran penting bahwa penerapan safeguarding di tingkat komunitas sangat memungkinkan dilakukan. Dengan komitmen bersama, peningkatan kapasitas, dan sistem perlindungan yang sederhana namun efektif, layanan komunitas dapat bertransformasi menjadi ruang yang aman bagi semua.
