PPRBM Solo: Inklusi dan Inovasi Tiada Henti
Pernikahan Anggota SHG Desa Mertasari: Praktik Baik Pemulihan dan Inklusi Sosial Berbasis Komunitas di Banjarnegara
Kabar bahagia datang dari anggota Self Help Group (SHG) Desa Mertasari, Kabupaten Banjarnegara, melalui pernikahan Mas Misno (disabilitas netra) dan Ibu Suprihatiningsih (ODDP) yang dilangsungkan di Aula Balai Desa Mertasari. Peristiwa ini tidak hanya menjadi momen sakral bagi kedua mempelai, tetapi juga merupakan praktik baik pemulihan berbasis komunitas yang menunjukkan peran penting dukungan sebaya, keluarga, masyarakat, serta pemerintah desa dalam mewujudkan lingkungan yang inklusif dan setara bagi penyandang disabilitas dan ODDP.
DIGNITY INKLUSIBERITA
Hanafi Slamet Sugiarto
4/20/20262 min read


Banjarnegara - 14 April 2026, Pernikahan sesama anggota Self Help Group (SHG) Desa Mertasari menjadi salah satu kisah praktik baik yang membanggakan sekaligus menginspirasi. Momen ini tidak hanya menandai bersatunya dua individu dalam ikatan pernikahan, tetapi juga menjadi simbol nyata dari proses pemulihan, penerimaan, dan penguatan peran sosial bagi anggota SHG di tengah masyarakat.
Keberhasilan terselenggaranya acara pernikahan ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Pemerintah Desa Mertasari memberikan ruang dan legitimasi sosial, memastikan bahwa setiap warganya, termasuk penyandang disabilitas dan ODDP, memiliki hak yang sama untuk menjalani kehidupan berkeluarga. PKK Desa Mertasari turut berperan aktif dalam membantu persiapan acara, mulai dari dukungan logistik hingga keterlibatan dalam menciptakan suasana yang hangat dan inklusif. Sementara itu, SHG Desa Mertasari menjadi penguat utama melalui solidaritas antar anggota, baik dalam bentuk dukungan moral, tenaga, maupun kebersamaan selama proses persiapan hingga pelaksanaan acara.


Kedua mempelai merupakan bagian dari SHG Desa Mertasari yang selama ini aktif mengikuti berbagai kegiatan pemberdayaan, dukungan sebaya, serta proses pemulihan berbasis komunitas. Melalui pendampingan yang berkelanjutan, mereka tidak hanya mengalami peningkatan kondisi kesehatan mental dan sosial, tetapi juga berhasil membangun rasa percaya diri, kemandirian, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Pernikahan ini juga menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis komunitas, seperti SHG, mampu menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan inklusif. Di dalamnya, setiap individu diberi kesempatan untuk tumbuh, pulih, dan berdaya, tanpa stigma dan diskriminasi. Lebih dari sekadar perayaan, peristiwa ini menjadi pesan kuat bagi masyarakat luas bahwa penyandang disabilitas dan ODDP memiliki hak yang sama untuk mencintai, membangun keluarga, dan berkontribusi dalam kehidupan sosial.
Praktik baik ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk terus memperkuat peran komunitas dalam mendukung pemulihan dan inklusi sosial. Dengan kolaborasi yang erat antara masyarakat, pemerintah desa, dan kelompok dukungan seperti SHG, tercipta peluang yang lebih besar bagi setiap individu untuk hidup bermartabat dan setara.
