PPRBM Solo: Inklusi dan Inovasi Tiada Henti

Pulih Itu Mungkin: Kisah Lutfiana dan Kekuatan Dukungan Keluarga serta SHG

Kisah Lutfiana mengingatkan kita bahwa pemulihan disabilitas psikososial bukan perjalanan sendiri melainkan perjalanan bersama yang dipenuhi dukungan, kesempatan, dan penerimaan.

DIGNITY INKLUSIADVOKASI DISABILITASCERITA MOTIVASI

Hanafi Slamet Sugiarto (CO Kabupaten Banjarnegara)

3/31/20262 min read

Tidak semua orang berani bercerita tentang masa tersulit dalam hidupnya. Namun Lutfiana memilih untuk berdiri dan berbagi bukan untuk dikenang sebagai perempuan yang pernah jatuh, tetapi sebagai perempuan yang berhasil bangkit.

Lutfiana adalah Perempuan muda dari Desa Kebanaran yang pernah menjadi penerima manfaat di Panti Pamardi Raharjo. Ia pernah berada pada masa ketika hidup terasa sangat berat, terutama saat menjalani rehabilitasi di rumah sakit dan panti sosial. Saat itu, ia harus jauh dari keluarga. Rasa sepi dan takut menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di tengah kondisi yang sulit itu, ia tetap menemukan sesuatu yang membuatnya bertahan: pengalaman baru dan teman-teman baru yang menguatkan.

Di Panti, Lutfiana tidak hanya menjalani pemulihan, tetapi juga belajar kembali percaya pada dirinya sendiri. Ia mengikuti berbagai pelatihan seperti membuat keset, kerajinan kain flanel, membuat telor asin dan belajar menjahit. Dari situ ia mulai menyadari bahwa dirinya masih memiliki kemampuan dan masa depan yang layak diperjuangkan.

Perubahan besar dalam hidupnya tidak terjadi begitu saja. Ada dua hal yang paling membuatnya kuat: dukungan keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Ia merasa bahwa ketika keluarga tetap menerima, tidak menghakimi, dan tetap mendukung, maka harapan untuk pulih terasa lebih nyata. Ia juga berharap masyarakat tidak lagi memandang sebelah mata orang dengan disabilitas psikososial, tetapi justru merangkul dan melibatkan mereka dalam kehidupan sosial.

Setelah kembali ke masyarakat, perjalanan Lutfiana belum selesai. Ia harus kembali menata hidup dari awal. Namun kali ini, ia tidak sendiri. Kehadiran keluarga yang mendukung serta lingkungan yang mulai menerima membuatnya lebih percaya diri. Apalagi dengan adanya SHG di Desa Mertasari yang berjarak cukup dekat dengan rumahnya, Lutfiana memiliki ruang yang aman untuk didengar, berbagi pengalaman, dan belajar bangkit bersama orang lain yang memiliki pengalaman serupa. Di dalam SHG, ia tidak lagi merasa sendirian. Ia merasa dihargai, dipercaya, dan diberi kesempatan untuk kembali berdaya.

Kini, Lutfiana mulai menjalani kehidupan yang lebih mandiri. Ia berjualan martabak manis dan corndog usaha kecil yang memberinya kebanggaan tersendiri. Hal sederhana seperti dagangan yang habis terjual sudah cukup membuatnya bahagia. Bagi orang lain mungkin itu hal kecil, tetapi bagi Lutfiana itu adalah bukti bahwa dirinya mampu berdiri kembali.

Yang membuat kisah Lutfiana begitu menginspirasi adalah cara ia memandang masa lalunya. Ia tidak membenci dirinya yang dulu. Justru ia berkata pada dirinya sendiri: “Maaf ya pernah membuat hidupmu sulit.” Kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa proses pulih bukan hanya tentang tubuh dan pikiran, tetapi juga tentang memaafkan diri sendiri.

Hari ini, Lutfiana memiliki harapan yang sederhana namun kuat: menjadi pribadi yang lebih baik, mampu mengontrol emosi, dan membuat keluarganya bangga. Ia juga ingin menyampaikan pesan bagi siapa pun yang sedang berada di masa sulit bahwa hidup tidak berhenti hanya karena kita pernah jatuh. Masih banyak hal yang bisa dilakukan, masih banyak masa depan yang bisa diperjuangkan.

Kisah Lutfiana mengajarkan satu hal penting: pemulihan tidak bisa dilakukan sendirian. Dukungan keluarga, penerimaan masyarakat, dan keberadaan SHG menjadi jembatan bagi seseorang untuk kembali percaya diri. Ketika seseorang diberi kesempatan, didengar, dan tidak dihakimi, maka harapan untuk pulih bukan lagi sekadar kemungkinan tetapi kenyataan.

Annisa Fatikhasari
Editor